Bermitra dengan Perusahaan, Petani Tembakau Lebih Sejahtera

Perusahaan-perusahaan rokok membuka peluang kerja sama dengan para petani tembakau untuk diangkat sebagai petani mitra.

Muhammad Yani, salah satu petani mitra PT HM Sampoerna mengungkapkan, produksi tembakaunya meningkat siginifikan setelah ia memutuskan menjadi petani mitra pada 2015 lalu.

"Dulu per hektar itu 1,9 ton tembakau. Setelah jadi mitra Sampoerna sejak 2015 jadi 2,9 ton," ujarnya di Desa Lombok Selatan, Kamis (7/9/2017).

Menurut Yani, menjadi seorang petani mitra sungguh sangat menguntungkan. Bahkan tutur dia, semua jadi serba mudah lantaran adanya bantuan dari pihak perusahaan mitra.

Bantuan itu meliputi pendampingan teknis seperti informasi dan bimbingan praktik pertanian tembakau yang baik, akses permodalan untuk sarana dan prasarana, hingga jaminan penyerapan hasil tembakau.

Harga tembakau yang dijual petani pun melonjak dari Rp 29.000 per kg menjadi Rp 40.000 per kg saat menjadi petani mitra. "Sebelum jadi mitra itu dari penanaman hingga penjualannya susah," kata dia.

Leaf Agronomy Manager PT HM Sampoerna Tbk Bakti Kurniawan mengatakan, program pendampingan kepada petani tembakau itu merupakan bagian program Sistem Produksi Terintegrasi atau Integrated Production System (IPS).

Sistem ini diyakini dapat menjadi solusi atas salah satu permasalahan tembakau di Indonesia yaitu belum maksimalnya serapan tembakau lokal.

Program IPS dilaksanakan dengan adanya kontrak kerja sama antara perusahaan pemasok tembakau dengan petani tembakau. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bermitra dengan Perusahaan, Petani Tembakau Lebih Sejahtera".